PAD Meningkat, Pajak Pagi Lawe Rutung Kurang Diperhatikan

KUTACANE

Pendapatan Anggaran Daerah Kabupaten Aceh Tenggara tahun 2018 lebihi target. Awalnya target PAD Agara tahun 2018 hanya 73 Milyar Rupiah yang didapat ialah 79 Milyar.

Sahrul, selaku Kabid Pedapatan menjelaskan kepada Suara Kita saat dikonfirmasi diruang kerjanya pada Kamis (20/6) menyebutkan bahwan PAD Murni tahun 2018 yang didapat ialah 9 Milyar Rupiah dari target Rp. 11 Milyar, sedangkan PAD Keseluruhan tahun 2018 yang didapat ialah Rp. 79 Milyar dari target 73 milyar rupiah.

Namun, hal tersebut justru berbanding terbalik dengan pengelolaan PAD yang didapat. Pasalnya, salah satu sumber penghasil PAD ialah Pajak Pagi Lawe Rutung kecamatan Lawe Bulan yang merupakan pasar perbelanjaan di Agara luput dari perhatian Pemkab Agara.

Sahrul menyebutkan di Pajak pagi Lawe Rutung tersebut ada 20 Unit Ruko milik Pemerintah Daerah dan PAD yang didapat dari Ruko tersebut ialah Rp. 9 Juta perbulan tiap-tiap rukonya.

Sedangkan untuk kios ada 250 unit kios dan terbakar beberapa tahun lalu 10 unit. PAD yang didapat dari tiap kios ialah sebesar dua puluh juta delapan ratus delapan puluh ribu rupiah perbulannya.
Selain itu ada juga pendapatan Cukai Harian (CH) dari pedagang mingguan yang hanya berjualan tiap Pekan Sabtu di Pajak Pagi.

Sahrul menyebutkan pengutipan CH tersebut dipihak ketigakan oleh orang-orang yang dipercaya. Pendapatan dari CH tersebut mencapai 21 juta perbulannya.

Meskipun dengan PAD yang sedemikian besar tapi fasilitas sarana dan prasarana yang ada di pajak pagi terbilang tidak terpenuhi. Salah satunya seperti jalanan berlubang yang sedari dulu tidak pernah diperbaiki dan tatanan para pedagang mingguan yang semrawut menyusahkan lalu lintas para pembeli dan tukang becak.

Bahkan pembeli dan tukang becak banyak yang mengeluh dengan keadaan jalanan yang rusak dan berdebu. Masidin, seorang tukan becak yang mengaku kesal karena tidak adanya perhatian pemerintah terhadap pasa Pajak Pagi tersebut.

“Kalo kita bawa becak geradak-geruduk suara dari bak becak kita karena melalui jalanan yang berlubang, kadang lubangnya tergenang air hingga kita ndak tau ada lubang” ujar Masidin.(DIKA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *