Peredaran Narkoba Kian Marak di Agara

KUTACANE

Maraknya peredaran narkoba di Bumi Sepakat Segenep Tanoh Alas Metuah sudah menjadi perbincangan yang hangat dikalangan masyarakat.

Pasalnya, pengedar narkoba jenis sabu sangat mudah dijumpai disetiap desa yang ada di Kabupaten Aceh Tenggara.

Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan beberapa masyarakat yang berbeda desa kepada Suara Kita pada Senin (9/12).

SM, salah satu warga yang tidak mau disebut nama desanya mengaku bahwa mendapatkan narkoba jenis Obor/sabu-sabu lebih mudah daripada membeli ikan asin.

Menurutnya, hal tersebut karena saat ini didesanya ada beberapa pengedar sabu yang hingga kini masih melakukan praktek jual beli sabu namun tidak pernah ditangkap oleh pihak kepolisian.

Selain SM, AY yang juga berasal dari desa lain mengaku bahwa peredaran narkoba di Agara semakin meningkat.

Ia menilai bahwa pihak Satuan Reskrim Narkoba Polres Agara tidak benar-benar fokus dan serius dalam menangani dan menangkap gerbong-gerbong para pengedar sabu.

Jupri selaku salah satu Pemuda Agara yang juga aktif dalam berperan dalam memerangi narkoba menyebutkan bahwa masyarakat Agara sering melewati perbatasan antara Aceh Tenggara dan Tanah Karo untuk membeli pasokan sabu-sabu. Hal ini terjadi karena jarak tempuh yang cukup dekat yaitu hanya berjarak dua kilometer.

Jupri menduga bahwa ada salah satu cafe bernama MK (Mama Karo) yang berlokasi di dekat perbatasan Lawe Pakam menjadi tempat pendistribusian narkoba ke desa-desa di Agara.

Ia juga mengaku bahwa kemungkinan besar pemilik Cafe MK memiliki hubungan dengan Kasat Narkoba Polres Agara, sehingga peredaran sabu-sabu di Tanoh Alas Metuah ini tidak mungkin untuk diberantas oleh pihak kepolisian.

AY menambahkan bahwa jika pihak Satres Narkoba Polres Agara bersungguh-sungguh dalam meberantas narkoba, harusnya mereka melakukan razia di pos perbatasan lawe pakam pada pukul 05.00 WIB Subuh pagi, maka dapat dipastikan akan banyak bandar sabu yang akan terjaring.

Sementara itu, Kasatres Narkoba Polres Agara Ipda Andreas Ginting ketika dihub via Whatsapp mengaku bahwa Cafe MK itu diluar zonanya, namun pihaknya akan tetap melakukan razia di perbatasan Lawe Pakam.

“Kalau masalah masyarakat ke situ, itu bukan wewenang saya melarang orang keluar dari Aceh Tenggara”. Tulis Andreas singkat. (03)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *